Kamis, 26 November 2015

(Info Langka),,,

Sambil Facebook-an dapet DUIT??? SIAPA YANG
GA MAU???
INILAH CARA TERCEPAT, TERBAIK, DAN
TERPERCAYA MENGHASILKAN UANG DI FACEBOOK. DALAM WAKTU SINGKAT DAN
PASTI!!! dengan modal yang SANGAT,,SANGAT,,TERJANGKAU...
Silahkan dilihat disini,,Semoga bermanfaat dan
SUKSES UNTUK KITA SEMUA
Mau? Info Lengkap  <a  href="http://komisifb.net/?id=najmazamzam"> buka & klik disini aja kawan </a>        (Info Langka),,,

Sambil Facebook-an dapet DUIT??? SIAPA YANG
GA MAU???
INILAH CARA TERCEPAT, TERBAIK, DAN
TERPERCAYA MENGHASILKAN UANG DI FACEBOOK. DALAM WAKTU SINGKAT DAN
PASTI!!! dengan modal yang SANGAT,,SANGAT,,TERJANGKAU...
Silahkan dilihat disini,,Semoga bermanfaat dan
SUKSES UNTUK KITA SEMUA
Mau? Info Lengkap  <a  href="http://komisifb.net/?id=najmazamzam"> buka & klik disini aja kawan </a>        (Info Langka),,,

Sambil Facebook-an dapet DUIT??? SIAPA YANG
GA MAU???
INILAH CARA TERCEPAT, TERBAIK, DAN
TERPERCAYA MENGHASILKAN UANG DI FACEBOOK. DALAM WAKTU SINGKAT DAN
PASTI!!! dengan modal yang SANGAT,,SANGAT,,TERJANGKAU...
Silahkan dilihat disini,,Semoga bermanfaat dan
SUKSES UNTUK KITA SEMUA
Mau? Info Lengkap  <a  href="http://komisifb.net/?id=najmazamzam"> buka & klik disini aja kawan </a>        (Info Langka),,,

Sambil Facebook-an dapet DUIT??? SIAPA YANG
GA MAU???
INILAH CARA TERCEPAT, TERBAIK, DAN
TERPERCAYA MENGHASILKAN UANG DI FACEBOOK. DALAM WAKTU SINGKAT DAN
PASTI!!! dengan modal yang SANGAT,,SANGAT,,TERJANGKAU...
Silahkan dilihat disini,,Semoga bermanfaat dan
SUKSES UNTUK KITA SEMUA
Mau? Info Lengkap  <a  href="http://komisifb.net/?id=najmazamzam"> buka & klik disini aja kawan </a>        (Info Langka),,,

Sambil Facebook-an dapet DUIT??? SIAPA YANG
GA MAU???
INILAH CARA TERCEPAT, TERBAIK, DAN
TERPERCAYA MENGHASILKAN UANG DI FACEBOOK. DALAM WAKTU SINGKAT DAN
PASTI!!! dengan modal yang SANGAT,,SANGAT,,TERJANGKAU...
Silahkan dilihat disini,,Semoga bermanfaat dan
SUKSES UNTUK KITA SEMUA
Mau? Info Lengkap  <a  href="http://komisifb.net/?id=najmazamzam"> buka & klik disini aja kawan </a>       

PASAK BUMI

Dikalang pria, sudah tidak asing lagi dengan tanaman yang satu ini. Pasak bumi memeng memiliki banyak sekali khasiat untuk kesehatan, terutama untuk meningkatkan gairah dan vitalitas pada pria. Pasak bumi memang telah dikenal sebagai tanaman yang kerap digunakan untuk obat kuat Adam. Khasiat Pasak Bumi ini telah terbukti dan dirasakan sejak dulu sampai sekarang ini.

Di Indonesia, Pasak Bumi atau yang dikenal dengan nama latin Eurycoma longifolia, tumbuhan subur dipedalaman kalimanatan yang juga telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat Dayak sebagai tanaman yang memiliki beragam khasiat.

Pasak Bumi atau yang di Negri Jiran Malaysia dikenal dengan Tongkat Ali ini ternyata kandungannya telah banyak diteliti secara ilmiah yang mana menujukan berbagai khasiat yang ada didalamnya.

Pasak Bumi mengandung ekstrak yang disebut dengan ethanolic yang sangat berperan dalam menambah jumlah hormon testosteron pada pria. Tanaman Pasak Bumi juga mengandung strichnin dan bursin yang sangat berkhasiat untuk menambah vitalitas pria karena memiliki sifat afrodisiak.

Menurut hasil penelitian, tumbuhah afrodisiak mengandung senyawa turunan alkaloid, saponin, tanin, dan lainnya yang berperan dalam melancarkan peredaran darah. Hal tersebut kemudian beimplikasi pada peningkatan sirkulasi darah didaerah alat kelamin pria. Masih banyak khasiat lainnya yang dimiliki oleh Pasak Bumi seperti untuk mengobati penyakit malaria.

Akar Pasak Bumi mengandung senyawa yang disebut dengan erikuimanon yang disinyalir mampu mengobati penyakit malaria. Demikian juga dengan kandungan senyawa yang disebut kuasinoid yang sangat berperan dalam melumpuhkan plasmodium falcifarum yakni bakteri yang menjadi penyebab penyakit malaria sendiri.

Selain itu, Pasak Bumi juga digunakan untuk mencegah terjadinya serangan kangker. Kandungan senyawa alkoloid dan kuasinoid-nya bisa menghambat terjadinya pertumbuhan sel kangker.

Hal tersebut pernah diuji dengan penelitian di Malaysia yang menyatakan bahwa ada setidaknya 8 alkaloid yang  ditemukan dalam akar Pasak Bumi, salah satunya ialah
alkaloid yang berfungsi sebagai antikangker payudarah.

Sedangkan menurut penelitian lainnya, di antaranya yang pernah dilakukan oleh Universitas Tokyo Jepang, Pasak Bumi juga ditemukan memiliki khasiat untuk antileukemia dan juga meningkatkan kekebalan tubuh bagi penderita HIV.

Pasak Bumi merupakan salah satu jenis tumbuhan obat yang tumbuhan di hutan-hutan, termasuk di hutan Indonesia. Di dalamnya terkandung setidaknya empat senyawa yang mengandung banyak khasiat yakni sebagai berikut:


  • Senyawa canthin yang berfungsi dalam menghambat terjadinya pertumbuhan sel kangker.
  • Senyawa turunan euryomanone yang berfungsi anti malaria.
  • Senyawa etanol yang berperan sebagai afrodisiak.
  • Senyawa quasinoid yang sangat ampuh sebagai antileukemia dan prospektif untuk penderita penyakit HIV.


Pada dasarnya, Pasak Bumi memiliki Khasiat dihampir seluruh bagian tubuhnya.

Daun Pasak Bumi
Daun pasak bumi yang masih muda bisa anda manfaatkan untuk mengobati sakit perut.

Akar Tumbuhan
Kulit akar pasak bumi sangat ampuh untuk mengobati demam, penyembuhan digusi atau gangguan cacing serta tonikum pasca melahirkan.

Kulit Batang
Kulit batang pasak bumi banyak dimanfaatkan untuk koagaulan pasca seseorang ibu melahirkan. Selain itu, bisa juga digunakan untuk mengobati nyaeri pada tulang.

Bunga dan Buah Pasak Bumi
Bagian bunga dan buah pasak bumi bisa digunakan untuk mengobati penyakit disentri.

Pasak Bumi ini penyebarannya terdapat di Sumatera dan Kalimantan (Indonesia), Semanjung Malaysia, dan lainnya. Dengan begitu banyak khasiat yang dimoliki oleh pasak bumi ini maka bila ada yang memiliki beberapa keluhan penyakit di atas seperti malaria atau ingin meningkatkan vitalitas (bagi pria) bisa menjadikan pasak bumi sebagai alternatif pengobatan yang mujarap.

==================

Berikut ini adalah khasiat akar pasak bumi untuk kesehatan, baca juga artikel tentang manfaat akar kelapa.
ANDA MAU KAYA DENGAN AKUN FACEBOOK MODAL 25 RIBU HASIL bisa nyampe jutaan LEBIH SEBULAN?
Atau anda mau, AKUN FACEBOOK ANDA MENGALIRKAN JUTAAN RUPIAH SETIAP HARINYA KE REKENING BANK ANDA ??
Terobosan Paling Mutachir Saat Ini, Anda Dapat Menghasilkan Uang Hanya Dengan Modal Facebook Mau? Info Lengkap http://komisifb.net/?id=najmazamzam

Kamis, 05 November 2015

Makhraj dan Cara Pengucapannya

Bahwa al-Qur'an diturunkan dan --kemudian-- ditulis dalam bahasa Arab adalah sesuatu yang sudah maklum. Akan tetapi, bahasa Arab yang selanjutnya menjadi bagian dari al-Qur'an tersebut tidak boleh dibaca sebagaimana membaca teks-teks berbahasa arab pada umumnya. Setiap huruf dari bahasa al-Qur'an memiliki sifat serta makhraj tertentu yang harus diikuti dan dipenuhi ketika dibaca. Tidak memenuhi sifat dan makhraj tersebut jika sampai mengubah makna, maka itu berdosa. Hal ini telah disinyalir oleh Rasulullah SAW: "Banyak orang yang membaca al-Qur'an tetapi al-Qur'an (yang dibaca) justru melaknatnya." Akan tetapi jika tidak sampai mengubah makna maka hal itu dianggap sebagai mengurangi kesempurnaan al-Qur'an.
Adanya sifat dan makhraj bagi bahasa al-Qur'an ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi kita bahwa (bahasa) al-Qur'an tidak bisa dengan seenaknya ditransliterasikan ke dalam bahasa manapun --termasuk bahasa Indonesia-- untuk kemudian dijadikan pedoman dalam membaca al-Qur'an. Karena bagaimanapun juga, bahasa Indonesia (dan bahasa-bahasa lain) tidak memiliki aturan tertentu dalam pengucapannya sebagaimana aturan yang dimiliki oleh bahasa al-Qur'an. Contoh paling sederhana, misalnya huruf ت. Jika ia ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia, maka huruf yang dianggap sesuai adalah T. Sebagaimana kita diketahui bahwa dalam mengucapkan huruf T, tidak ada aturan tertentu yang mengaturnya, selain sepanjang dapat ditangkap oleh pendengar. Hal ini berbeda dengan huruf ت. Di dalam mengucapkan huruf ت, selain kita harus menyentuhkan ujung lidah pada pangkal gigi depan atas (bagian dalam) juga nafas kita harus keluar. Baik ketika huruf ت tersebut difathah, didhammah, dikasrah maupun disukun.
Begitulah al-Qur'an diturunkan dan kemudian diajarkan. Sejak zaman Rasulullah (shahabat), tabi'in, tabi' al-tabi'in hingga umat Islam pada zaman sekarang. Sehingga jika ada orang yang membaca al-Qur'an dengan tanpa mengikuti kaidah atau aturan tertentu sebagai-mana ketika ia diturunkan, maka pembacaan itu perlu diluruskan. Dengan demikian, menguasai huruf-huruf al-Qur'an sebelum belajar membaca al-Qur'an adalah sebuah keniscayaan yang tidak boleh ditinggalkan, jika kita tidak ingin disebut sebagai orang yang mengurangi kesempur-naan al-Qur'an atau bahkan orang yang akan mengubah makna al-Qur'an. Di bawah ini, dengan sederhana, saya sajikan keterangan tentang huruf-huruf al-Qur'an baik yang berkaitan dengan makhraj, sifat maupun cara pengucapannya.
أَ إِ أُ بَأْ : Makhraj: pangkal tenggorokan. Sifat: jahr, syiddah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: mulut terbuka lebar, suara tidak boleh dibesarkan dan tidak boleh dibaca "o".
بَ بِ بُ بَبْ : Makhraj: dua bibir menempel. Sifat: jahr, syiddah, istifâl, infitâh, idzlâq, qalqalah. Cara pengucapan: nafas ditahan (tidak boleh keluar, berbeda dengan "ba" dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa), dan ketika disukun harus dibendalkan.
تَ تِ تُ بَتْ : Makhraj: ujung lidah menempel pada pangkal gigi atas bagian dalam. Sifat: syiddah, hams, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: nafas harus keluar, baik ketika hidup maupun ketika dibaca sukun. Berbeda dengan "ta" dalam bahasa Indonesia maupun Jawa. Hati-hati!
ثَ ثِ ثُ بَثْ : Makhraj: ujung lidah menyentuh ujung dua gigi atas. Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: nafas keluar.
جَ جِ جُ بَجْ : Makhraj: tengah lidah menempel langit-langit. Sifat: jahr, syiddah, istifâl, infitâh, ishmât, qalqalah. Cara pengucapan: nafas ditahan (tidak boleh keluar, berbeda dengan "ja" dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa), ketika disukun harus dibendalkan.
حَ حِ حُ بَحْ : Makhraj: tengah-tengah tenggorokan. Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmat. Cara pengucapan: bersih (tidak ada getar di tenggorokan), nafas keluar.
خَ خ ِخُ بَخْ : Makhraj: ujung tenggorokan. Sifat: hams, rakhâwah, isti'lâ`, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: ada getar di tenggorokan, mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun) dan nafas keluar.
دَ دِ دُ بَدْ : Makhraj: ujung lidah menempel pada pangkal gigi atas bagian dalam. Sifat: jahr, syiddah, istifâl, infitâh, ishmât, qalqalah. Cara pengucapan: nafas ditahan (tidak boleh keluar, berbeda dengan "da" dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa), dan ketika dibaca sukun suara harus dibendalkan.
ذَ ذِ ذُ بَذْ : Makhraj: ujung lidah menyentuh ujung dua gigi atas. Sifat: jahr, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: nafas tertahan (tetapi tetap ada yang keluar), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.
رَ رِ رُ بَرْ : Makhraj: ujung lidah sedikit lebih ke dalam daripada nun. Sifat: jahr, istifâl, infitâh, idzlâq, inhirâf, takrîr, tafkhîm dan tarqîq. Cara pengucapan: ketika berharakat fathah, dhammah dan berharakat sukun yang didahului oleh huruf berharakat fathah/ dhammah harus dibaca tebal (mulut mecucu). Ketika berharakat kasrah dan ketika berharakat sukun yang jatuh setelah huruf yang berharakat kasrah/jatuh setelah ya' sukun harus dibaca tipis (mulut mecece).
زَ زِ زُ بَزْ : Makhraj: ujung lidah dengan ujung dua gigi (yang) bawah. Sifat: jahr, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât, shafîr. Cara pengucapan: nafas tertahan (tetapi tetap ada yang keluar), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.
سَ سِ سُ بَسْ : Makhraj: ujung lidah dengan ujung dua gigi (yang) bawah. Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât, shafîr. Cara pengucapan: nafas keluar, harus dibaca tipis (mulut mecece).
شَ شِ شُ بَشْ : Makhraj: tengah lidah dengan langit-langit. Sifat: hams, rakhawâh, istifâl, infitâh, ishmât, tafasysyi. Cara pengucapan: suara tebal dan nafas keluar.
صَ صِ صُ بَصْ : Makhraj: ujung lidah dengan ujung dua gigi (yang) bawah. Sifat: hams, rakhâwah, isti'lâ`, ithbâq, ishmât. Cara pengucapan: nafas keluar, suaranya tipis dengan mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun).
: ضَ ضِ ضُ بَضْMakhraj: tepi lidah (kanan/kiri) dengan (menyentuh) gigi geraham. Sifat: jahr, rakhâwah, isti'lâ`, ithbâq, ishmât, istithâlah. Cara pengucapan: nafas ditahan (tidak boleh keluar), suara besar, mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.
طَ طِ طُ بَطْ : Makhraj: ujung lidah menempel pada pangkal gigi atas bagian dalam. Sifat: jahr, syiddah, isti'lâ`, ithbâq, ishmât, qalqalah. Cara pengucapan: nafas ditahan (tidak boleh keluar); mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara harus dibendalkan.
ظَ ظِ ظُ بَظْ : Makhraj: ujung lidah menempel pada ujung dua gigi atas. Sifat: jahr, rakhâwah, isti'lâ`, ithbâq, ishmât. Cara pengucapan: nafas agak tertahan (tetap ada yang keluar), suara besar, mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.
عَ عِ عُ بَعْ : Makhraj: tengah-tengah tenggorokan. Sifat: jahr, istifâl, infitâh, ishmât. Cara penguca-pan: nafas tertahan, suara seperti bindeng, jangan dibaca 'nga'.
غَ غِ غُ بَغْ : Makhraj: ujung tenggorokan. Sifat: jahr, rakhâwah, isti'lâ`, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: nafas (agak) tertahan; suara besar, mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.
فَ فِ فُ بَفْ : Makhraj: ujung gigi atas menempel pada bibir bawah sebelah dalam. Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, idzlâq. Cara pengucapan: nafas keluar.
قَ قِ قُ بَقْ : Makhraj: pangkal lidah sebelah atas, sangat dekat tenggorokan. Sifat: jahr, syiddah, isti'lâ`, infitâh, ishmât, qalqalah. Cara pengucapan: nafas ditahan; mulut mecucu (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara harus dibendalkan.
كَ كِ كُ بَكْ : Makhraj: pangkal lidah di bawah makhraj qaf. Sifat: syiddah, hams, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: nafas keluar (baik ketika difathah, dikasrah, didhammah maupun disukun), ketika dibaca sukun suara tidak boleh dibendalkan.
لَ لِ لُ بَلْ : Makhraj: kanan kiri lidah hingga ujungnya. Sifat: jahr, istifâl, infitâh, idzlâq. Cara pengucapan: keluar nafas, suara jangan dibesarkan.
مَ مِ مُ بَمْ : Makhraj: dua bibir. Sifat: jahr, istifâl, infitâh, ghunnah. Cara pengucapan: bibir menempel (jawa: mingkem), suara jangan dibesarkan.
نَ نِ نُ بَنْ : Makhraj: ujung lidah agak ke dalam di bawah makhraj lam. Sifat: jahr, istifâl, infitâh, idzlâq, ghunnah. Cara pengucapan: suara jangan dibesarkan, ketika disukun jangan dibendalkan.
وَ وِ وُ بَوْ : Makhraj: dua bibir. Sifat: jahr, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: bibir terbuka; suara tidak boleh dibesarkan, ketika disukun dan jatuh setelah harakat fathah jangan dibaca 'ao', tapi 'au'.
هَ هِ هُ بَهْ : Makhraj: pangkal tenggorokan. Sifat: hams, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: suara besar dan nafas keluar.
يَ يِ يُ بَيْ : Makhraj: tengah lidah dengan langit-langit. Sifat: jahr, rakhâwah, istifâl, infitâh, ishmât. Cara pengucapan: suara tidak boleh dibesarkan, ketika disukun dan jatuh setelah harakat fathah jangan dibaca 'ae', tapi 'ai'.
Keterangan:
1. HAMS (هَمْس) artinya samar. Maksudnya: ketika huruf diucapkan, disertai dengan keluarnya nafas. Di antara huruf-hurufnya:
(فَحَثَّهُ شَخْصٌ سَكَتْ) ف ح ث ه ش خ ص س ك ت hati-hati ketika huruf ت dan ك disukun, nafas jangan ditahan.
2. JAHR (جَهْر) (kebalikannya hams) artinya terang. Maksudnya: suara huruf jelas dan ketika diucapkan nafas tertahan. Huruf-hurufnya antara lain:
د ط ل ب ع ظ م وزن ق رئ ذي غ ض ج
(عَظُمَ وَزْنُ قَارِئٍ ذِيْ غَضٍّ جَدَّ طَلَبْ)
3. SYIDDAH (شِدَّة) artinya keras (jawa: atos). Maksudnya: suara tertahan ketika mulai mengucapkannya. Huruf-hurufnya:
أج د ق ط ب ك ت (أَجِدْ قَطٍ بَكَتْ)
4. RAKHÂWAH (رَخَاوَه) (kebalikannya syiddah) artinya lemah (jawa: lemes, kendo). Maksudnya: suara tidak tertahan ketika memulai pengucapan. Huruf-hurufnya:
خ ذ غ ث ح ظ ف ض ش وص زي س ه
(خُذْ غِثَّ حَظّ فُضَّ شَوْصَ زِيِّ سَاهٍ)
5. ISTI'LÂ` (اِسْتِعْلاَء) adalah naiknya lidah ke langit-langit ketika huruf diucapkan. Huruf-huruf isti'la` ini disebut juga huruf tafkhim (tebal). Cara pengucapannya: bibir mecucu.
Huruf-hurufnya antara lain: خ ص ض غ ط ق ظ. (خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ) . Di antara huruf-huruf tersebut yang paling tinggi --naiknya lidah-- adalah huruf ط.
6. ISTIFÂL (اِسْتِفَالْ) (kebalikannya isti'la`) adalah lidah tidak naik ketika huruf dibaca. Huruf-hurufnya harus dibaca tipis. Cara pengucapannya: bibir tidak mecucu.
Huruf-hurufnya:
ث ب ت ع ز م ن ي ج ود ح رف ه إذ س ل ش ك
ثَبَتَ عِزُّ مَنْ يُجَوِّدُ حَرْفَهُ إِذْ سَلَّ شَكَا) (
7. ITHBÂQ (إِطْبَاقْ) artinya bertemu (menempel)nya lidah pada langit-langit ketika huruf diucapkan. Di antara huruf-hurufnya adalah ظ ط ض ص .
Sebagaimana dijelaskan di atas, isti'lâ` adalah naiknya lidah ke langit-langit, sementara ithbâq adalah menempelnya lidah pada langit-langit, dengan demikian huruf-huruf yang memiliki sifat ithbaq adalah di antara huruf-huruf isti'lâ` yang paling kuat.
8. INFITÂH (إِنْفِتَاحْ) (kebalikannya ithbâq) adalah terbukanya (tidak menempelnya) lidah pada langit-langit. Huruf-hurufnya adalah huruf hijaiyah 28 selain empat huruf di atas ظ ط ض ص.
9. IDZLÂQ (إِذْلاَق) artinya lancar. Maksudnya: huruf-huruf yang mudah diucapkan. Di antara huruf-hurufnya adalah: ف ر م ن ل ب (فِرَّ مِنْ لُبٍ) Mudahnya pengucapan huruf-huruf tersebut adalah karena makhrajnya berada di bagian luar. ر ن ل keluar dari ujung lidah, sementara ف م ب keluar dari dua bibir.
10. ISHMÂT (إِصْمَاتْ) (kebalikannya idzlâq) artinya diam atau sulit diucapkan. Maksudnya bahwa huruf-huruf yang memiliki sifat ishmât sulit diucapkan, sehingga membutuhkan kehati-hatian dan pelan-pelan. Huruf-hurufnya antara lain:
ج ز غ ش س خ ط ص د ث ق ة إذ وع ظ ه ي ح ض ك
(جُزْ غِشَّ سَاخِطٍ صِدْ ِثقَةً إذْ وَعْظُهُ يَحُضُّك)
11. QALQALAH (قَلْقْلَةْ) artinya goncang (mbendal)nya suara. Di antara huruf yang memiliki sifat qalqalah adalah:
ق ط ب ج د (قَطْ بُجَدٍ)
12. SHAFÎR (صَفِيْر) artinya suara sruit, merupakan suara tambahan yang keluar bersama dengan keluarnya nafas. Di antara huruf yang memiliki sifat ini adalah ص س ز.
13. ISTITHÂLAH (اِسْتِطَالَهْ) artinya memanjang. Maksudnya, terdapat awalan yang panjang (sampai makhrajnya lam) sebelum huruf diucapkan. Sifat ini hanya dimiliki oleh huruf ض.
14. TAFASHSHÎ (تَفَشِّى) artinya tersebar. Maksudnya, ketika huruf diucapkan, terdapat banyak angin yang mengiringinya. Sifat ini hanya dimiliki oleh huruf ش.
15. TAKRÎR (تَكْرِيْر) artinya keder ketika diucapkan. Sifat ini hanya dimiliki oleh huruf ر.

Rabu, 21 Oktober 2015

(Info Langka),,,

Sambil Facebook-an dapet DUIT??? SIAPA YANG
GA MAU???
INILAH CARA TERCEPAT, TERBAIK, DAN
TERPERCAYA MENGHASILKAN UANG DI FACEBOOK. DALAM WAKTU SINGKAT DAN
PASTI!!! dengan modal yang SANGAT,,SANGAT, ,TERJANGKAU...
Silahkan dilihat disini,,Semoga bermanfaat dan
SUKSES UNTUK KITA SEMUA
 Mau? Info Lengkap http://komisifb.net/?id=najmazamzam

Jumat, 02 Oktober 2015


PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN WUDHU’

Artikel ini adalah tambahan/lanjutan daripada artikel “Sifat Wudhu’ Rasulullah”. Artikel sebelumnya boleh dirujuk di sini (melalui link ini):
http://fiqh-sunnah.blogspot.com/2007/06/tajuk-003-sifat-wuduk-rasulullah.html

1. Kentut & Qadha’ Hajat

Firman ALLAH S.WT:

Wahai orang-orangyang beriman, berwuduklah apabila kamu ingin mendirikan solat... atau apabila ada antara karnu yang datang dari tempat membuang hajat. (Surah al-Maidah: 6)

Abu Hurairah r.a berkata, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:

ALLAH tidak akan menerima solat seseorang apabila dia telah berhadas sehingga dia kembali berwuduk. Seorang lelaki daripada Hadramaut bertanya: Apakah yang dimaksudkan dengan hadas wahai Abu Hurairah? Jawabnya: Kentut. (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

2. Keluar air mazi.

Ali bin Abu Talib r.a berkata:

Aku adalah lelaki yang paling banyak keluar air mazi. Lalu aku perintahkan seorang lelaki bertanya kepada Nabi s.a.w menggunakan nama anak perempuanya (Fatimah). Lalu dia bertanya kepada baginda. Lantas haginda menjawab: Berwudhu’lah dan basuhlah kemaluanmu. (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ibn al-Mundziri r.h bcrkata:

“Memang tsabit daripada hadis Rasulullah s.a.w rnengenai kewajipan berwudhu’ bagi air mazi (yang keluar)” (Rujuk al-Ausot, jil. 1, ms. 133)

Al-Nawawi r.h berkata:

“Mengenai hukum keluar air mazi, ijmak ulama bahawa tidak wajib mandi junub. Abu Hanifah, Syafie, Ahmad dan jumhur berpendapat, wajib berwuduk berdasarkan hadis ibi.” (Rujuk Syarh Sahih Muslim, jil. 3, ms. 212)

3. Keluar al-Wadi

Ibn Abbas a berkata:

Berhubung dengan air mani, wajib mandi junub. Mengenai air mazi dan wadi, dia hendaklah membasuh kemaluannya serta bewuduk. (Hadis riwayat Abdul Razzaq dalam Musannaf, jil. 1, ms. 159 dengan sanad sahih)

Ibn al-Mundzir r.h berkata:

“Mengenai air wadi, ia sesuatu yang keluar daripada zakar selepas kencing. Oleh itu, wudhu’ wajib selepas kencing. Jadi, apa sahaja yang keluar daripada zakar sudah tentu diwajibkan berwuduk sebagaimana wajib berwuduk apabila keluar air kencing.” (Rujuk al-Ausot, jil. 1, ms. 136)

4. Keluar air mani

Ini berdasarkan riwayat Ibn Abbas r.a yang dinyatakan sebelum ini melalui Musannaf Abdul Razzaq.

5. Sesuatu yang keluar secara berterusan seperti darah istihadhah dan sebagainya.

Nabi s.a.w memerintahkan agar wanita yang mengalami darah istihadhah berwuduk setiap kali solat berdasarkan hadis yang diriwayat oleh Bukhari dalam kitab al- Wuduk, bab: Ghuslu al-Dam (228) dan Muslim, kitab al-Haid (333)

6. Tidak perlu berwudhu' apabila waswas.

Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:

Apabila seseorang antara kamu merasakan sesuatu yang tidak kena pada perutnya lalu waswas sama ada dia kentut atau tidak, dia tidak perlu keluar daripada masjid kecuali selepas dia mendengar bunyi atau terhidu bau kentut. (Hadis riwayat Muslim)

7. Tidur atau Tidak Tetap Punggung

Safwan bin ‘Assal r.a. berkata:

“Rasulullah s.a.w memerintahkan kami agar tidak mencabut kasut ketika musafir selama tiga hari tiga malam kecuali jika berjunub, buang air besar, air kecil atau tidur” (Hadis riwayat Ahmad, al-Nasaai dan al-Tirmizi. Al-Tirmizi mensahihkannya)

Berselisih pendapat sama ada tidur boleh membatalkan wudhu’ atau sebaliknya. Namun, terdapat beberapa hadis sahih yang menjelaskan bahawa tidur yang lena dan tetap punggungnya tidak perlu berwudhu’.

Anas r.a berkata:

“Suatu ketika, para sahabat Rasulullah s.a.w menunggu solat isyak sehingga tersengguk-sengguk kepala mereka kerana Nabi s.a.w melewatkannya. Setelah baginda bersiap untuk menunaikan solat, mereka bangun bersolat tanpa memperbaharui wuduk.” (Hadis riwayat Muslim, Abu Daud dan al-Tirmizi)

Ibn ‘Abbas r.a berkata:

Aku telah bermalam di rumah ibu saudaraku Maimunah (isteni Nabi). Rasulullah s.a.w bangun untuk menunaikan solat malam. Lain, aku bangun berdiri di sebeiah kirinya. Kemudian, baginda menanik tanganku hingga menjadikan aku berada di sebeiah kanannya. Setiap kali kepalaku tersengguk kerana mengantuk, baginda akan menarik telingaku. Baginda melakukan solat itu sebanyak 11 rakaat. (Hadis riwayat Muslim)

Menurut pendapat paling sahih, apabila seseorang tidur tetapi tetap punggungnya di bumi dan sebagainya, wuduknya tidak terbatal berdasarkan beberapa hadis di atas. Namun, yang afdalnya ialah berwuduk apabila tertidur berdasarkan maksud hadis secara umum.

8. Menyentuh Wanita Ajnabi.

Ulama berbeza pendapat dalam menentukan hukum menyentuh wanita ajnabi tanpa berlapik. Ini kerana, perselisihan mereka dalam mentafsjrkan firman ALLAH di bawah:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman ,kamu hendaklah berwudhu’ apabila ingin mendirikan solat... Kamu juga mesti berwudhu’ walaupun ketika sakit, musafir, berhadas kecil atau menyentuh wanita.” (Surah al-Maidah: 6)

Sentuhan menurut pengertian bahasa ialah merasai sesuatu dengan tangan atau bertemu kulit sesama manusia. Namun, menurut Ibn ‘Abbas r.a (sahabat Nabi s.a.w yang digelar sebagai pakar tafsir al-Quran) berpendapat bahawa kalimah لامَس atau لمَس yang dikehendaki dalam ayat ialah (persetubuhan).

Ini kerana, menurut pemahaman orang arab apabila dikatakan لامست
المراة bermaksud (aku bersetubuh dengannya). Pendapat ini dikuatkan lagi dengan firman ALLAH S.WT:

Maryam berkata: Ya TUHAN-ku, mana mungkin aku mernpunyai seorang anak sedangkan aku belum pernah disentuhi lelaki. (Surah Alii Imran: 47)

Sebahagian ulama menggunakan firman ALLAH yang bersifat umum untuk menguatkan hujah bahawa menyentuh perempuan membatalkan wudhu’.

Firman ALLAH S.WT:

Al-Quran itu tidak boleh disentuh melainkan orang-orang yang suci. (Surah al-Waqi’ah: 79)

Begitu juga maksud sabda Rasulullah s.a.w yang difahami secara urnum. Sedangkan, majoriti ulama berpendapat bahawa yang dimaksudkan dengan طاهر (suci) di sini ialah iktikad yang suci daripada syirik.

Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm daripada ayah dan datuknya:

Sesungguhnya Nabi s.a.w telah memerintahkan sahabatnya menulis sepucuk surat kepada penduduk Yaman yang terkandung dalam isi kandungannya: Al-Quran tidak boleh disentuh kecuali dalam keadaan suci. (Hadis riwayat al-Darimi dan Malik)

Penggunaan kalimah itu hakikatnya secara kiasan semata-mata. Ini kerana, perbuatan syirik menurut fahaman salafussoleh termasuk amalan yang boleh dianggap najis.

Dikuatkan lagi dengan firman ALLAH yang berbunyi:

“Sesungguhiya orang musyrikin itu najis.” (Surah al-Taubah: 28)

Begitu juga sabda Rasulullah s.a.w:

“Sesungguhnya orang mukrnin tidak najis.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, al-Nasaai, Ibn Majah dan Ahmad)

Menurut Tafsir Ibn Kathir, al-Quran tidak boleh disentuh (diambil) daripada اللوح المحفوظ (tempat simpanan khazanah perbendaharaan ALLAH termasuk al-Quran) kecualiالمطهرون (para malaikat al-Muqarrabun) yang berada paling hampir dengan ALLAH. Ini kerana, ALLAH kaitkan ayat sebelumnya yang bermaksud:

“Sesungguhnya, itulah al-Quran yang mulia. Ia berada dalam kitab yang terjaga rapi (di lauh mahfuz). Tidak ada seorang pun yang boleh meryentuhnya kecuali orang-orang yang suci (malaikat).” (Surah al-Waqi’ah: 77 – 79)

Banyak hadis sahih yang membicarakan tentang sentuhan Nabi s.a.w dengan para isterinya. Namun, baginda tetap meneruskan solat tanpa memperbaharui wudhu’nya.

Aisyah r.a berkata:

“Rasulullah s.a.w telah mendirikan solat sedangkan aku berada di hadapannya (melintang) seperti jenazah yang terbujur ketika disolatkan. Apabila ingin menunaikan solat witir baginda akan mengejutkanku dengan hujung kakinya.” (Hadis riwayat al-Nasaai. Al-Hafiz Ibn Hajar menyatakan bahawa sanad hadis ini sahih di dalam Kitab al-Talkhis)

Aisyah r.a berkata:

Nabi s.a.w telah mencium salah seorang isterinya. Kemudian baginda menunaikan solat tanpa memperbaharui wudhu’nya. (Hadis riwayat Abu Daud dan al-Nasaai)

Aisyah r.a berkata:

“Suatu malam, aku kehilangan Rasulullah s.a.w daripada tempat tidurku. Aku telah menyentuhnya lalu meletakkan tanganku ke atas kedua-dua belah tapak kakinya yang sedang ditegakkan. Ketika itu, baginda sedang berada di dalam majid sambil aku mendengar baginda berdoa: ... (Hadis diriwayatkan oleh Muslim dan al-Nasaai. Al-Tirmizi mensahihkannya)

Pendapat terpilih, tidak mengapa tidak berwudhu’. Hujah saya, jika perkara itu diwajibkan dan berdosa apabila meninggalkannya atau ia hanya dikhususkan kepada Nabi s.a.w, pasti terdapat dalil yang sahih lagi sarih melarang perbuatan itu.

Sedangkan, ada sebahagian hadis yang sahih menyebut bahawa Nabi s.a.w tidak berwudhu’ ketika bercumbu-cumbuan dengan isteri-isterinya. Inilah pendapat yang saya pegang sebagaimana pendapat sebahagian ulama Syafie seperti Ibn Hajar al-Asqalani, al-Nasaai dan selainnya.

Oleh itu, jika hadis di atas merupakan pengkhususan kepada Nabi sa.w, maka perlu didatangkan dalil yang menerangkan perkara Iitu.

9. Menyentuh kemaluan.

Busrah binti Safwan r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:

Janganlah menunaikan solat sebelum berwudhu’ bagi sesiapa jang menyentuh kemaluannya. (Hadis riwayat Ahmad, al-Tirmizi, al-Nasaai, Abu Daud dan Ibn Majah. Al-Tirmizi mensahihkannya)

Al-Bukhari r.h berkata:

“Inilah hadis paling sahih dalam bab membicarakan terbatal wuduk menyentuh kemaluan.” (Rujuk Nail al-Autor, jil.l. ms. 189)

Namun, hadis di atas tidak terlepas daripada kritikan ahli hadis mengenai martabat kesahihannya. Inilah pendapat yang dipegang oleh sebahagian salafussoleh seperti Ali, Ibn Mas’ud, ‘Ammar, Hasan al-Basri, Rabi’ah, al-’Utrah, al-Tsauri, Abu Hanifah dan pengikutnya serta selain mereka berdasarkan hadis di bawah.

Talaq bin Ali r.a berkata:

Rasulullah s.a.w ditanya: Apabila seorang lelaki menyentuh kemaluannya, adakah dia perlu berwuduk? Jawab baginda: Bukankah ia hanya sebahagian daripada anggota badanmu. (Hadis riwayat Ahmad, al-Tirmizi, al-Nasaai, Abu Daud, Ibn Majah dan al-Daruqutni. Hadis ini diklasifikasikan sebagai sahih oleh Amru bin Ali al-Falas, Ibn Hibban, al-Tabrani dan Ibn Hazm)

‘Amru bin Ali al-Falas r.h berkata:

“Hadis ini lebih tsabit daripada hadis Busrah.”

Ali bin al-Madini berkata:

“Menurut kami, inilah hadis terbaik berbanding hadis Busrah.”

Al-Thohawi berkata:

“Sanad hadis ini mustaqim, iaitu tidak mudhorib (bercampuk-aduk dengan lafaz lain). Berbeza dengan hadis riwayat Busrah.”

Oleh kerana kedua-dua hadis di atas tidak dapat ditarjihkan dan terdapat kritikan pada sanad, pendapat terpilih ialah afdhal berwuduk apabila menyentuh kemaluan dan diyakini tidak terkena najis. Tetapi, solat orang yang tidak memperbaharui wuduk tetap sah sama ada berlapik atau tidak kerana tidak ada dalil sarih (jelas) mengenainya. Begitu juga sama ada bersyahwat atau sebaliknya.

Manakala hukum tidak batal wuduk apabila berlakunya persentuhan dengan belakang tapak tangan, tidak dapat dipastikan kesahihan pendapat itu. Ia hanya pendapat tanpa asal-usul yang dapat dikaji masih boleh.

10. Makan daging unta.

Jabir bin Samurah r.a berkata:

“Seorang lelaki telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w: Adakah kami perlu memperbaharui wudhu’ apabila memakan daging kambing? Jawab baginda: Jika kamu mahu, berwudhu’lah. Jika sebaliknja, tidak mengapa. Ditanya lagi: Adakah kami perlu berwudhu’ apabila memakan daging unta? Jawab baginda: Ya. Berwudhu’lah apabila memakan daging unta. Ditanya lagi: Bolehkah kami solat di kandang kambing? Jawab baginda: Boleh. Ditanya lagi: Bolehkah kami solat di kandang unta? Jawab baginda: Tidak. (Hadis riwayat Ahmad dan Muslim)

Ibn al-Mundziri r.h berkata:

“Wajib berwuduk selepas makan daging unta kerana tsabit melalui hadis dan sanad.” (Rujuk al-Ausot, jil. 1, ms. 138)

Ibn Qudamah r.h berkata:

“Makan daging unta membatalkan wudhu’ serta merta sama ada dimakan secara mentah atau dimasak dan dalam keadaan tahu atau jahil.” (Rujuk al-Mughni, jil. 1, ms. 250)

11. Hilang akal kerana gila, pengsan dan sebagainya. Aisyah r.a berkata:

Nabi s.a.w. berada dalam keadaan sakit yang tenat. Baginda pun bertanya kepadanya: Adakah orang ramai telah solat? Jawab Aisyah:

Belum. Mereka menunggu engkau. Baginda berkata: Bawakan air wudhu’ yang berada dalam Mikhdhab (sejenis bekas) itu untukku. Aisyah berkata: Aku pun melakukannya. Lalu baginda membasuh (berwudhu’). Tiba-tiba sakit itu menyerang lagi dan baginda terus pengsan.

Apabila sedar baginda bertanya lagi: Adakah orang ramai telah solat? Jawab Aisyah: Belum. Mereka menunggu engkau. Baginda berkata: Bawakan air wudhu’ yang berada dalam Mikhdhab (sejenis bekas) itu untukku. Aisyah berkata: Baginda duduk lalu membasuh (berwudhu’). Tiba-tiba sakit itu menyerang lagi dan baginda terus pengsan.

Apabila sedar baginda bertanya lagi: Adakah orang ramai telah solat? Jawab Aisyah: Belum. Mereka menunggu engkau. Baginda berkata: Bawakan air wudhu’ yang berada dalam Mikhdhab (sejenis bekas) itu untukku. Aisyah berkata: Baginda duduk lalu membasuh (berwudhu’). Tiba-tiba sakit itu menyerang lagi dan baginda terus pengsan.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ibn al-Mundzir r.h berkata:

“Ulama sepakat mewajibkan berwudhu’ bagi sesiapa yang tidak sedar disebabkan gila atau pengsan. Kami telah meriwayatkan dengan sanad yang tsabit daripada Rasulullah s.a.w bahawa baginda telah mengalami sakit lalu berwudhu’ sehingga menyebabkan baginda pengsan.” (Rujuk al-Ausot, jil. 1, ms. 155. 156)